Scapegoat Chicken Part I

Desember 12, 2018


Jujur, saya bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata. Saya hanyalah perempuan biasa yang terus belajar menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi. I'm to be honest in my true story. Di sini saya mencoba mengklarifikasi dari satu kejadian besar (menurut saya pribadi) yang pernah menimpa saya waktu kelas tiga SMA. Baru hari ini saya memberanikan diri membesarkan hati untuk menceritakan semuanya. Sebagai pembelajaran, bahwa tidak semua manusia bisa diperlakukan seperti hewan tak berakal. Karena sejatinya, manusia memiliki perasaan yang patut dihargai dan dipertanyakan secara manusiawi tindak tanduknya.

Flashback to four years before

Sebelum kejadian besar menimpa saya, sebenarnya saya sudah berteman lama dengan Estri. Estri adalah seorang perempuan. Salah satu perempuan yang bersifat keibuan di kelas unggulan waktu saya SMP (Fyi, sekolah SMP saya didominasi sama anak perempuan semua, karena sekolah kita berada dalam naungan yayasan pondok pesantren, jadi sekolah laki-laki dan perempuan kala SMP dipisahkan). Kita semakin dekat dan akrab sejak kita sama-sama tahu bahwa kita bernasib sama. Sama-sama berasal dari keluarga yang agamis tapi secara materi kita sama-sama tidak mempunyai nilai lebih. Tapi kita sedang berada di dalam satu visi yang sama yaitu "Anak'e wong gak nduwe, kudu survive, kudu juara, kudu pinter, kudu cerdas, dan kudu bisa membanggakan orang tua". Dari situlah kita merasa klop dan harus saling support untuk menjadi pelajar yang baik. Dan saya juga merasa ada suntikan semangat untuk merealisasikan visi itu ketika saya bersama dia. (karena saya orangnya kurang percaya diri bisa berteman dengan yang lainnya sebab bukan berasal dari keluarga berkecukupan, dengan melihat prestasi si Estri, saya mulai sedikit percaya diri).

Dari kelas dua SMP kita selalu bareng dan satu bangku. Dia sering main ke rumah, begitu juga saya, sering diajak main ke rumahnya. Jadi kita sama-sama saling tahu dan ngerti. Masalah apapun yang dia hadapi, saya pasti tahu (insyaallah sih ya, lebih banyak tahunya) karena dia selalu berani menumpahkan segala unek-uneknya kepada saya. Tidak seperti saya lah. (saya pun mengapresiasi hali ini; i think sulit buat ngungkapin problematika kehidupan pribadi ke orang lain, ya meski saya hanya bisa menjadi pendengar, bukan pemberi solusi). Begitupun sebaliknya antara saya dengan Estri, tapi tidak semua problem yang saya punya bisa saya umbar ke dia, karena saya memang pribadi yang introvert sejak lama, jadi secara laduni saya paham bahwa ada problem yang sifatnya bukan lagi menjadi konsumsi publik. You know what i mean, i think. Kita sahabatan tapi hanya saya yang lebih banyak tau tentang kelebihan dan kekurangan dia. Untuk kelebihan, i think banyak orang di luar sana yang sudah tau lah ya. Kalau dia mungkin melihat sisi kekurangan dari saya saja, karena kelebihan saya tidak pernah sekalipun saya tampakkan secara terang-terangan. Ya paling jiwa nyeni saya yang sering nampak. Selebihnya mah pasti banyak yang meragukan. Contohnya: Ilmu matematik, kimia, dan fisika saya yang mungkin hanya beberapa orang saja yang happy mengapresiasi.

Saya selalu ingat pesan ibu, "tidak semua hal bisa kita ceritakan kepada orang lain, tak terkecuali masalah pribadi kita yang amat sangat privasi." Begitupun saya ke dia, mungkin saja saya tidak terlalu tahu semua problematika yang dihadapinya, tapi ya setidaknya bisa dibandingkan lah berapa persen curhatan saya dibanding dia. 40% banding 80% lah sekiranya. (sori ya bukan maksud tapi faktanya memang begitu, nggak sadis-sadis amat kan gue?)

Dia tahu, saya anak dari keluarga broken home sejak ibu dan bapak divorce waktu saya masih dalam kandungan. Dan ibu tidak pernah menikah lagi karena kasih sayangnya terlalu besar buat anak semata wayangnya ini (padahal rasa bencinya jauh lebih besar terhadap tanggung jawab bapak saya). Estri pun tahu bahwa bapak bukanlah orang yang berkecukupan karena semasa kelas satu SMA, saya pernah mengajaknya pergi ke rumah keluarga bapak. Saya pun tahu bagaimana keadaan keluarganya. Jadi kita sudah saling tahu bahwa kita memang sama-sama bukan dari keluarga yang berkecukupan. Tapi bukan berarti segalanya tentang saya dan keluarga dia kuasai historinya.

Back to the topic.

Waktu kelas satu SMA kita berjanji untuk tidak satu bangku lagi, biar ada suasana baru, katanya. Saya pun setuju. Saya pun sudah biasa menelan pahit manis yang terucap dari mulut teman-teman soal prestasi dan kekurangannya. Toh sebagian tindak tanduknya juga ada yang membuat saya mengatakan "setuju". Seperti: tetap berusaha sendiri mencari jawaban dalam mengerjakan soal, dengan qiyasan mengandalkan orang lain sama halnya menggantungkan hidupnya pada orang lain. I totally agree. Tidak peduli seberapa menyakitkannya ucapan orang lain, saya berusaha menjadi teman baik yang bisa menjaga nama baik dan tidak menyakiti.

Ingat sekali waktu kenaikan kelas dua SMA atau masih kelas satu SMA semester dua. Dia sedang belajar memperbaiki diri soal penampilan yang terus membuat hatinya gusar. Dia minta pendapat dan persetujuan saya, alhasil dengan beberapa opsi yang saya tawarkan akhirnya dia memilih opsi yang diyakininya sendiri. I said, hemmb yasudahlah kita coba saja reaksi dari khalayak. Dan yeah, tentu saja banyak menuai perdebatan dan hujatan karena tampilan yang dia umbarkan ke mereka tidak sesuai dengan adat/ budaya yang ada.

Dengan bahasa yang halus, hati-hati dan juga sesuai porsi, saya mencoba menyampaikan dan mengungkapkan keluh kesah plus pendapat dari beberapa teman soal penampilannya yang sungguh menuai kotroversi. Alhamdulillah, she's agree. Akhirnya dia kembali dengan penampilan seperti biasa. I said Alhamdulillah, setidaknya orang lain tidak men-judgement bahwa dia bukan orang baik-baik atau mengikuti paham atau aliran yang menyesatkan (tidak sesuai dengan adat budaya setempat).

(Sebenarnya kejadian ini sudah saya buang jauh-jauh dalam pikiran. Tapi entah kenapa, file dalam folder memori scapegoat chicken ini selalu muncul layaknya malware dalam laptop. Semakin diklik format, semakin menyebar luas dalam ingatan)

Sekali lagi, di sini saya hanya ingin mengklarifikasi bahwa saya bukanlah seorang thief seperti apa yang sudah dituduhkan doi pada masa itu. I like a chicken in a poke. Dengan muka bego nya saya waktu itu, rasa percaya diri saya nyalakan besar-besar layaknya seorang pengecut yang bersembunyi dalam sebuah karung keraguan. Ragu apakah benar Estri adalah sahabat saya? Dan dengan ikhlas saya pede dipermalukan didepan umum seperti itu, padahal saya bukanlah pelaku.

Kronologi Kejadian

Waktu itu, saya bersama dengan beberapa teman yang ada di kelas sedang berganti pakaian olahraga. Selain saya, ada tiga teman perempuan (kalau tidak salah ada tiga, saya sampai lupa) sedang ngobrol-ngobrol, entahlah menyoal apa. Toh saya anaknya memang agak kurang doyan ikutan nimbrung begitu. Kalau tidak salah ada juga di situ, salah satu teman baik yang saya kagumi, namanya Norin (satu-satunya teman yang mem-backup saya sampai akhir kejadian).

Setelah saya ganti baju dan hendak keluar, mau beli makanan di kantin, Estri tiba-tiba muncul di depan pintu sambil meminta tolong saya untuk mengambilkan baju seragamnya (atasan + bawahan). Dengan terburu-buru pun saya langsung ambil dan memberikannya langsung.

Selang beberapa hari, dia cerita ke saya bahwa uangnya telah hilang. Dia pun tak bilang berapa banyak nominalnya. Dia cuma bilang bahwa sepertinya ada yang ngambil uangnya saat olahraga tadi. Saya pun tak menggubris, karena saya pikir uang yang hilang paling cuma 5,000 atau 10,000 saja. Biasanya kan dia lupa naruh atau ketinggalan di rumah. Saya pun sudah bilang, mungkin lupa naruh atau jatuh di jalan atau ketinggalan di rumah, tapi dia tetap saja ngotot sepertinya ada yang ambil.

"Kamu tau nggak sih ry siapa yang ngambil?" tanya dia ke saya.
"Wah, kalau itu aku juga kurang tau tri, soalnya kan kamu liat sendiri kemarin aku baru masuk kelas, ganti baju, tarus kamu dateng, langsung ambil baju kamu terus aku kasih ke kamu."
"Lha itu, aku kok jadi curiga ya sama seseorang."
"Ah, jangan gitu tri, nanti kalau bukan dia kan jadi su'udzon."
"Coba tebak siapa?"
"Lha, siapa? Aku juga nggak tau."
"Aku sih agak feeling ke dia, coba dong tebak, mungkin kita satu feeling."

Akhirnya saya sebutlah nama salah satu teman kita, yang katanya dulu pernah ada kejadian yang sama di sekolahan lama dan dia menjadi tersangka. Ini cuma praduga ya, kemungkinan saja menurut saya karena dipaksa menebak.

"Nah, sama dong ya. apa jangan-jangan dia ya ry?"
"Bisa jadi iya, bisa jadi enggak tri, kalau emang dikit sih yaudahlah ya ikhlasin aja. Biar nanti diganti sama Allah dengan yang lebih banyak."
"Iya ya, amin. Tapi aku masih nggak terima kalau memang dia."
"Eh, jangan cari masalah lagi tri. Ingat kejadian kemarin, jangan sampai nanti kamu dihujat anak-anak lagi gara-gara salah nuduh."
"Iya, tenang aja, nanti aku tanya baik-baik kok ke dia."
"Oke, kalau gitu, terserah kamu aja. Yang penting jangan sampai berita ini nyebar sampai ke kelas lain atau kemana-mana." 
"Iya, tenang aja, paling ke Mbak Debi." 

Fyi, mbak Debi adalah salah satu siswa perempuan di kelas kami yang dikenal rajin, anak pemuka agama, sedikit cakap dan dewasa. Tidak pelit dalam segala hal, dan mungkin saja bisa dijadikan tempat curhat untuk anak-anak yang sedang terlibat problematika kehidupan. Saya juga setuju kalau dia cerita cuma ke mbak Deby. Mungkin mba Deby bisa bantu mencarikan solusi, kan abahnya seorang pemuka agama. Siapa tahu, bisa bantu.

Seperti apa yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa tidak semua problem yang saya punya harus saya umbar ke orang lain, meskipun ke sahabat saya sendiri. Pada saat itu pun, ibu saya sedang krisis ekonomi dan sedang memperjuangkan hidup saya untuk bisa bersekolah sampai ke tingkat Menengah Atas. Waktu itu ibu sedang mencoba berjualan lagi di rumah (setelah berbulan-bulan menderita sakit yang aneh). Ibu coba menjual bakso, snack, minuman, dan beberapa makanan ringan lain seperti gorengan, untuk anak-anak TPQ (karena rumah saya dekat dengan masjid dan TPQ). Tapi dengan amat sangat tulus dan jujur, saya mengatakan bahwa saya bukanlah seorang pencuri. Meski saya berasal dari keluarga yang amat sangat sederhana, tapi saya masih terus berusaha untuk tidak menentang larangan Allah yang diajarkan langsung oleh ibu saya.


I've became a scapegoat!

Estri tiba-tiba sikapnya berubah ke saya. Demi apapun, saya pun tak paham maksud doi berubah sikap ini kenapa. Saya pikir mungkin dia sedang ada masalah dengan keluarga dan tak mau diganggu oleh saya. Sementara sudah beberapa hari ini Ujian Nasional dimulai (kalau tidak salah sih, apa ujian tryout ya, hampir lupa saya juga). Saya pikir memang benar, ada baiknya kita belajar sendiri saja dulu biar bisa fokus kan ujiannya.

Flashback dikit. Waktu itu mbak Debi pernah sms ke saya, dia nanya kira-kira siapa yang ngambil uang Estri di sakunya. Dan saya jawab "tidak tahu, tapi mungkin saja si A, feeling kita sih gitu" (nama yang saya sebutkan sama dengan yang saya sebut selama ngobrol sama Estri. Dan saya sebut kita karena mbak Deby juga sama-sama tahu kalau saya dan Estri sudah lama jadi teman dekat). Setelah itu mbak Deby tidak juga membalas. Saya jadi agak curiga, sms itu seolah meyakinkan saya bahwa saya telah menuduh si A mencuri uangnya Estri.

Tak lama kemudian, sikap teman-teman juga agak berubah ke saya. Setiap ada saya langsung menghindar. Saya bertanya ke mereka, dengan percaya diri mereka acuh seakan enggan mau bicara dengan saya. Saya jadi gemetaran, ada apa ini? Saya bertanya-tanya sendiri. Tak ada yang bisa saya beri soalan, mereka selalu menghindar dan seakan mengucilkan saya.

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapat jawaban dari Norin, bahwa saya telah digosipkan oleh teman-teman satu kelas bahkan semua guru pun tahu di belakang sana, bahwa saya telah tega mengkambing hitamkan si A demi menutupi kesalahan saya. Ada yang bilang begini, "Mentang-mentang si A punya predikat buruk saat SMP kemarin dia (aka gue) jadi main tuduh dan dengan seenaknya menyebarkan fitnah kalau si A yang mencuri uang Estri, kasihan kan si A jadi nangis-nangis karena merasa bersalah." You know bagaimana perasaan saya waktu itu?

Mari kita runtutkan bersama: Saya sahabatnya Estri, dan saya berharap dia jujur terhadap saya (berapa banyak nominal uangnya yang hilang) ternyata dia tidak jujur padahal dia sendiri yang mulai untuk bercerita kalau dia telah kehilangan. Saya sudah mencoba menenangkan agar tidak negative thinking, tapi dia maksa saya untuk menebak siapa yang mencuri uangnya, (dari sinilah saya sudah mulai merasa sedikit terganggu, tapi saya masih stay positive). Kemudian dia ingin bercerita atau mungkin lebih tepatnya meminta bantuan mbak Deby mencarikan orang pintar untuk mengetahui siapa pencuri sebenarnya (sampai pada masa ini saya masih belum tahu berapa banyak nominalnya dan saya masih belum merasa ada hal negatif yang bakal saya terima). Setelah itu, tiba-tiba Mbak Deby sms ke saya (dan saya masih stay positive thinking karena memang saya tidak merasa bersalah dan tidak merasa mencuri uangnya jadi kalem saja), lalu tidak ada jawaban selanjutnya seolah-olah sms itu memastikan ke saya bahwa saya memang menuduh si A. Lalu pyaaar! Gosip saya telah mencuri uang si Estri dan mengkambing hitamkan si A mulai tersebar ke seantero sekolahan. Daaaaaan:

Begonya: Saya masih positive thinking bahwa Estri sudah ikhlas menerima apa yang telah terjadi. Dia sudah mulai tenang dan masih fokus belajar sendiri untuk Ujian Nasional. Itulah alasan kenapa sampai saat itu saya masih didiemin.

Sampai pada saatnya saya mulai weggah dan penasaran. Apa benar gosip seantero sekolahan tentang saya telah beredar. Dan siapa orang yang telah menyebarkan fitnah tersebut? Saya sedikit gergetan dan langsung mencari Estri setelah ujian selesai. Alhamdulillah dipertemukan, akhirnya saya beranikan diri bicara secara sopan. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan semoga memang bukan Estri yang bikin fitnah. Atau lebih tepatnya, semoga saya telah salah mendapatkan informasi.

Kalian tahu bagaimana reaksi yang saya dapatkan?

Saya: Estri, ini ada titipan dari ibu saya. (Padahal saya hanya cuap-cuap saja supaya saya bisa ngobrol dengan dia, menanyakan apa yang sudah terjadi, apa benar gosip tentang saya mengkambing hitamkan itu ada. Saya rela minta bekal mie gelas, snack dan susu buat Estri ke ibu dan berbohong kalau bekal itu untuk saya padahal bukan, saya rela istirahat tak menelan apapun demi bisa bertemu dan ngobrol dengan Estri)

Sambil ngeluyur dia bilang tidak usah repot-repot. Tapi saya paksa, sambil saya ceritakan kalau ibu saya sekarang mulai sehat dan jualan lagi. Akhirnya dia menerima dengan paksa, tapi tetap saja dia ngeluyur meninggalkan saya.

Setiap hari saya mencari teman untuk bisa diajak ngobrol tapi rasanya susah sekali. Kecuali Norin, satu-satunya teman yang masih percaya bahwa saya bukan anak yang seperti itu. Dia semacam yakin dan ada insting bahwa pencurinya bukan saya, melainkan saya hanyalah orang yang dijadikan kambing hitam oleh seseorang yang kita sendiri tidak tahu siapa orangnya.

NORIN. Dialah satu-satunya teman sekaligus informasi terbaik dari setiap kejadian yang ada masa itu. Dia juga yang memberi tahu bahwa saya akan disidang oleh teman-teman sekelas, karena sudah mencemarkan nama baik si A. Berulang kali saya istighfar dalam hati, saya menangis tiap malam. Saya pura-pura tegar dan fine di sekolah. Hanya Norinlah sang malaikat penjaga saya masa itu. I say thank you so much Norin, Semoga Allah tidak melupakan kebaikanmu masa menolongku dulu. Jadi ingat sahabat Qosim dengan kisah kentutnya yang mendunia.

Bersambung. . .
Baca Juga: Scapegoat Chicken Part II


You Might Also Like

0 komentar

Hallo Everyone!

Welcome atau Selamat Datang !

Selamat datang dan selamat menemukan keberuntungan, karena kau telah bertemu dengan salah satu spesies blogisius fiksidisaurus . Yang da...

Fanpage Facebook

Pengikut