Scapegoat Chicken Part II

Desember 13, 2018


Sepanjang ujian saya hanya bertemankan buku dan Norin. Saya berdiam diri bukan berarti menutup diri. Teman-teman menyambut saya bermacam-macam, ada yang percaya dan ada juga yang tidak. Ada yang masih ragu dan ada juga yang berpura-pura. Semua terlihat dari raut wajah masing-masing. Saya masih stay calm karena saya masih harus menghadapi Ujian Nasional. Saya tidak berfikir apapun selain ingin membahagiakan ibu. Membuat beliau bangga dengan prestasi yang mungkin bakal saya dapatkan (mendapat nilai tinggi dalam Ujian Akhir Nasional misalnya).

Beberapa guru mungkin ada yang sudah dengar gosip ini, entah mereka percaya atau tidak. Sedari dulu ada saja yang bikin saya sakit hati menyoal penilaian mereka dengan saya. Selalu saja saya yang jadi kambing hitam.

  • Saya yang pendiam dikira diam-diam menghanyutkan suka ngajak teman berbuat nggak bener.
  • Saya yang nggak pernah pacaran dibilang suka gonta-ganti lelaki karena sering diantar pulang ke rumah (padahal cuma nebeng biar irit ongkos yang terkadang saya pun juga tidak kenal siapa anaknya, palingan sama-sama tahu kalau sekolahnya masih di satu yayasan)
  • Saya yang rapi bajunya dibilang sok-sokan jadi orang kaya. Macam social climber konon. Anj*
  • Saya yang suka ganti-ganti tas atau sepatu dibilang sombong, padahal mah hasil pemberian saudara jauh yang kalau pulang kampung ke rumah, saya sering dibawain baju branded, tas atau sepatu berkualitas bekas dianya sekolah dulu.
  • Saya pindah bangku dikira sombong nggak mau dekat sama laki-laki padahal aslinya mah nyerongos (doyan), sesungguhnya saya pindah karena saya ingin belajar menjadi pribadi yang beda tapi ada saja yang bikin ulah.
Dan lagi-lagi, saya dijadikan kambing hitam dan baru beberapa tahun terakhir ini saya tersadar betapa chicken (pengecut) nya saya masa itu. Tidak berani berpendapat, merasa minder terus, tidak percaya diri, dan tindak-tanduk saya yang aneh bikin orang jadi salah paham dan akhirnya saya jadi scapegoat alias kambing hitam. INGAT! Jangan Pernah bertingkah laku aneh, biar tidak dijadikan umpan oleh para penguasa kegelapan. Kesempatan adalah Peluang. Salah satu pelajaran berharga yang pernah saya dapatkan dari kejadian ini.

Akhirnya disidang di depan kelas

Ujian hari terakhir selesai, saya sungguh tidak tahu kalau hari ini saya bakal disidang sama anak satu kelas. You know buat apa? Supaya saya bisa bersumpah di atas al-Qur'an dan supaya teman-teman satu kelas pada tahu bahwa saya adalah seorang Pencuri yang mengkambing hitamkan temannya sendiri.

Saya keluar dari kelas, dan mendapati Si A tengah menangis sesenggukan dengan beberapa orang yang ada di sekelilingnya. Semua teman satu kelas menatap sinis saya tak terkecuali. Terlebih teman dekat saya sendiri selain Estri. Ada si B dan si C yang suka bareng kala pulang sekolah dan sepermainan, benar-benar tidak membackup saya, mengacuhkan saya dan seolah meyakinkan bahwa saya memang pelakunya. Hingga terdengar di telinga, "Lihat tuh, si B aja udah males temenan sama dia. Yaiyalah, udah miskin, nggak punya harga diri lagi. Rugi kaliii." Benar-benar tidak ada yang menganggap saya sebagai makhluk baik-baik. Sampai ada juga yang nyeletuk, "Gitu aja tampilannya rapi, sombong bener, sok jadi anak orang kaya, nggak taunya kere (miskin), pantesan nggak ada yang mau sama dia." Teriris rasanya di hujat dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. Tanpa harus merasa bahwa di rumah juga sedang dilanda ujian, saya pun menegakkan punggung sambil merapikan buku ke dalam tas.

Norin mendekati saya dan berbisik bahwa saya harus siap-siap kalau saya bakal di sidang di kelas setelah ini. Mendengar itu, seketika jantungku berdetak cepat sekali, saya gemetaran berkeringat dingin. Memang benar, saya bukan pelakunya, tapi yang bikin saya nangis berdarah-darah dalam hati adalah sampai hati pulak sahabat sendiri mempermalukan saya di depan teman-teman dan para guru. Saya lihat mata Norin berkaca-kaca melihat saya yang sepertinya bakal tumbang di kelas nanti. Saya bakal dihajar habis-habisan sama anak kelas. Disuruh apa saya pun belum tahu, bakal diapakan pun saya belum tahu. Apakah bakal direkam pun saya sungguh pasrah. Yang penting kata Allah: Berani karena Benar, Takut karena Salah. Karena saya memang tidak pernah mengambil uang itu, saya harus berani menghadapi kenyataan. Sambil percaya diri pun saya berjalan menuju kelas di samping ruang guru bersama Norin. (sampai masa ini pun saya masih belum tahu berapa banyak nominal uang yang hilang, sungguh kejam tak berakhlak sih menurut saya).

Saat saya masuk kelas, saya sudah mendapati teman-teman satu kelas saya sudah berkumpul dengan tatapan penuh curiga antara percaya dan tidak percaya. Ada yang berbisik dan ada juga yang acuh. Beberapa ada yang merasa kasihan terhadap saya. Semua terlihat langsung dari raut wajah mereka. Saya berjalan dengan percaya diri supaya saya kuat menghadapi ujian seperti ini untuk yang pertama kalinya. Sungguh masih tidak bisa dipercaya bahwa saya hari itu akan disidang seperti orang yang baru saja melakukan dosa besar.

Setelah dibuka oleh salah satu teman saya. Entahlah saya lupa, kalau tidak salah sih "Mbak Debi". Yang kemudian mempersilahkan si Estri untuk mengungkap siapa pencurinya. Yang seolah-olah itu semua tertuju pada saya.

Ini bagian yang paling menyakitkan, dan sampai saat ini rasanya susah sekali untuk memaafkan.

Estri dengan lantang maju ke depan kelas, memberikan penjelasan bahwa uang yang ada di saku dressnya (senilai dua ratus ribu rupiah) telah hilang pada saat olahraga berlangsung, atau tepatnya kami juga tidak tahu kapan dan siapa pencurinya. Dia bilang itu uang untuk membayar Ujian Akhir Nasional. Dan banyak sekali yang ia ungkapkan.

Sampai pada masanya hati saya hancur ketika dia menyebutkan aib keluarga dan aib saya sendiri, padahal demi apapun bukan saya pencurinya dan tidak pernah sekalipun saya berkhianat jadi teman dekatnya. Apalagi menyakitinya. Dia bilang saya anaknya kurang beribadah (sholatnya bolong-bolong), tidak patuh pada orang tua, berani ngambil hak orang dan sebagainya. Dari situ, saya sempat berfikir, "Tau gini saya jadi orang bejat saja dari dulu." Tapi alhamdulillah, saya tidak gentar dengan segala bisikan iblis yang mungkin pada saat itu sedang serius mengadu domba kami dan menertawakan kami. Saya justru ingin memperbaiki diri untuk bisa jadi manusia yang lebih baik. Biarkan Estri berteriak sekeras mungkin, mencari perhatian sebanyak mungkin. Karena saya selalu menguatkan diri bahwa Allah tidak tidur, Allah selalu menjadi saksi kehidupan para hambanya. Allah selalu memberikan hikmah dibalik segala kejadian yang diberikan kepada seluruh makhluknya, dan Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dengan percaya diri Estri menunjuk-nunjuk saya dengan bahasa yang lumayan kasar. Saya seolah mau dirajam orang sekampung. Semata-mata biar semua orang tahu bahwa dosa saya sesungguhnya sebesar gunung yang begitu besar dan amat memalukan di mata orang Islam.

Tanpa ampun saya disumpah di atas al-Qur'an. Dipandu oleh mbak Debi dengan sumpah serapah yang berupa-rupa. Estri hanya menambahkan saja. Saya tertunduk menangisi diri sendiri di dalam hati. Ingin rasanya saya berteriak di depan semua teman-teman seperti yang dilakukan Estri. Ingin rasanya saya mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya dan bertanya, atas dasar apa dan bukti dari mana mereka menuduh saya sebegitu gampangnya dengan fitnah yang begitu menyayat hati.

Apa daya, saya hanya orang introvert yang pengecut. Yang hanya menuruti semua permintaan mereka, yang hanya berdiam diri membayangkan betapa sakit dan sedihnya perasaan ibu saya yang sedang berjuang mati-matian untuk menghidupi saya. Tapi, nama baik saya seketika tercoreng dalam hitungan detik. Semua guru sepertinya sudah mendengar berita ini, tapi whatever. Toh memang sejujurnya BUKAN SAYA pelakunya. Mau menjelaskan apapun di saat situasi seperti ini tidak akan ada gunanya. Ku biarkan waktu menjawab dengan sendirinya, tapi tak kan mungkin bisa terjadi jika kebohongan telah ditutupi seekor kambing hitam yang bisu aksara.

Kesempatan adalah peluang

You know what i mean. Saya tiba-tiba jadi detektif untuk kasus saya sendiri. Saat ini, di tahun 2018 ini. Saya berani mengumpulkan beberapa spekulasi. Dan yang paling saya heran adalah, kenapa Estri begitu yakin kalau saya adalah pelakunya, padahal dia sendiri pun tahu bahwa saya tidak pernah melakukan perbuatan sekeji itu selama ini. Pun semiskin-miskinnya diri saya secara materi, saya tidak berani mengambil hak orang apalagi milik sahabat sendiri. WTF kawan!

1. Mungkin karena saya anak yang minder, kurang pemberani, jadi gampang saja dijadikan kambing hitam. (Q: kenapa dia setega itu? We're bestfriend loh!)
2. Mumpung ibu saya sedang merintis usaha, dengan gampangnya pasti dikasih ganti. (padahal ibu tipe orang yang amat sangat keras, sekalinya saya berulah, bertahun-tahun ia baru bisa memaafkan)
3. Estri gampang terpengaruh teman yang berpenampilan sok alim dan sok suci (maaf, bukan maksud), tapi ternyata hanya topeng belaka.
4. Sekalinya pergi ke dukun langsung oke, ekseskusi harga mati dengan cara percaya sama orang (yang katanya) pintar tapi salah sasaran.
5. Kesempatan menghakimi orang yang gerak-geraiknya aneh macam saya. Entahlah saya juga benci sama diri yang begini aneh nya. Selalu aja jadi sasaran orang gila. Mentang-mentang tahu kalau saya ini orang yang lugu, dengan mudahnya cas cus bikin cekcok dan seolah-olah sudah tahu bahwa saya tidak akan berkutik lagi. I'm a chicken! alias Gue pengecut! Fu*k!

Baca serial terakhirnya di:
Akhir kisah Scapegoat Chicken

You Might Also Like

0 komentar

Hallo Everyone!

Welcome atau Selamat Datang !

Selamat datang dan selamat menemukan keberuntungan, karena kau telah bertemu dengan salah satu spesies blogisius fiksidisaurus . Yang da...

Fanpage Facebook

Pengikut